Sebuah perhelatan bertajuk Invitasi Teater Federasi Teater Indonesia (Inter-FTI) 2009, yang berlangsung dari tanggal 1-5 Desember 2009, di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan, menyuguhkan sepuluh pertunjukan teater dari sepuluh grup teater terpilih se-Jabodetabek dan Serang. Inter-FTI 2009 adalah semacam ajang kompetisi antara para penggiat teater untuk memampilkan hasil dari kerja-kerja teatrikalnya, dengan semangat mencari dan menjaring karya-karya teater mutakhir terbaik, dan dengan harapan dapat menjadi tolok ukur atau salah satu standar perkembangan teater di negeri ini.
Kesepuluh grup teater yang tampil dalam ajang ini secara berturut-turut adalah Teater UKM UI dengan naskah (Limbuk [n] Jaluk Marrid karya Asep Sambodja), Teater Getapri (Rekaman Terakhir Krapp karya Samuel Beckett), Teater Ema (Bila Malam Bertambah Malam Setiap Malamnya karya/sutradara Afri Rosyadi), Teater Ciliwung (Selamat Jalan Anak Kufur karya Utuy Tatang Sontani), Teater Mode (Bianglala karya Nano Riantiarno), Teater El Na’ma (Rohman adaptasi naskah Rashomon karya Ryonosuke Akutagawa), Teater Amoeba (Sssstt….!!! karya Ikranegara), Teater Studio Indonesia (Bicaralah Tanah karya/sutradara Nandang Aradea), Sanggar Matahari (Kebinasaan Kan karya/sutradara Dediesputra), dan terakhir Teater Indonesia (RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang).
Setelah saya menyaksikan seluruh pertunjukan tersebut, dan sejenak mengamati judul-judul naskah pada buklit Inter-FTI 2009 seperti yang disebutkan di atas, terpercik sebuah simpulan di kepala saya bahwa teater Indonesia kekurangan atau malah tak memiliki regenerasi penulis naskah drama. Dengan kata lain, regenerasi penulis naskah drama Indonesia mati total! Hal ini ditunjukkan dengan masih terlalu dominannya naskah-naskah yang sudah ada sebelumnya—untuk tidak mengatakan naskah lama—, yang coba dipertunjukan dalam ajang ini. Barangkali, simpulan saya ini hanyalah sebuah generalisasi tidak sempurna. Namun, bukankah generalisasi tidak sempurna yang lebih banyak digunakan oleh ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial untuk memeroleh sebuah rumusan.
Dalam ajang ini, kita bisa menyebutkan bahwa hanya ada tiga naskah yang ditulis oleh sutradaranya sendiri, yaitu Teater Ema (Bila Malam Bertambah Malam Setiap Malamnya karya/sutradara Afri Rosyadi), Teater Studio Indonesia (Bicaralah Tanah karya/sutradara Nandang Aradea), dan Sanggar Matahari (Kebinasaan Kan karya/sutradara Dediesputra). Ketiga naskah inilah yang akan saya soal dalam tulisan ini. karena naskah-naskah tersebut saya kira dapat dikatakan mewakili naskah drama/teater yang ditulis oleh kalangan penggiat teater sendiri, yang sedikit sekali menulis naskah lakon. Padahal naskah lakon adalah salah satu unsur penting dalam sebuah pertunjukan teater, apalagi jika pertunjukkannya menggambarkan realitas sosial (realis).
Meskipun, memang, ada juga naskah yang merupakan hasil adaptasi bebas sang sutradara, misalnya, Teater El Na’ma dengan naskah Rohman yang merupakan adaptasi bebas dari naskah Rashomon karya Ryonosuke Akutagawa. Namun, naskah hasil adaptasi pastilah telah mengalami penyederhanaan serta interpretasi. Dan selebihnya adalah naskah-nasakah lama, atau kalaupun naskah baru tetapi bukan ditulis oleh sutradaranya sendiri, seperti Limbuk (n) Jaluk Marrid yang dibawakan Teater UKM UI adalah karya Asep Sambodja—yang notabene adalah esais dan dosen UI.
* * *
Bila Malam Bertambah Malam Setiap Malamnya, bercerita tentang dua orang polisi belainan jenis kelamin yang berusaha mengungkap peristiwa hilangnya satu keluarga di sebuah bungalaw secara misterius. Kedua polisi itu terjebak di sebuah ruangan, di kawasan Muara Bondet, Tanjung Priok, dan sesekali ditakutkan oleh suara-suara yang mengerikan. Kompleksitas yang ditawarkan adalah sebuah refleksi tentang kebanggaan-kebanggaan manusia berdarah biru (ningrat), jabatan, pangkat, status sosial, yang memang masih mengurat tegas dalam kehidupan bangsa ini. Sampai di sini, kiranya siapa pun akan beranggapan bahwa naskah yang dibawakan Teater Ema adalah naskah realis. Namun di akhir pementasan, cerita realis yang sudah terbangun sedari awal menjadi hancur karena ending cerita ternyata berakhir secara surealistik. Yaitu, kedua polisi yang terjebak di sebuah ruangan, yang juga terlibat asmara, ternyata adalah/hanyalah ruh dua polisi yang telah gagal mengungkap misteri. Gambaran mengenai hal ini diungkapkan cukup bagus dengan menggunakan media audio-visual berupa film tentang tewasnya kedua polisi tersebut. Selain alur cerita yang “tak terduga”, saya kira, naskah Bila Malam Bertambah Malam Setiap Malamnya adalah pencampuradukan secara serampangan antara realis, miteri, detektif, melodrama, sampai surealis.
Sedangkan Bicaralah Tanah, menurut pengakuan sutradaranya, Nandang Aradea, sebagaimana tertera pada leaflet pertunjukan adalah “perang petani yang ide awalnya bermula dari pembacaan ulang atau tafsir Geger Cilegon yang dikenal dengan Pemberontakan Petani Banten terhadap Belanda pada tahun 1888”. Spirit pemberontakan petani atawa Geger Cilegon 1888, nampak diekspresikan dengan gerak, tari, tanah, tubuh, dentang logam antara cangkul dan parang, musik tradisi, yang kesemuanya lebih merupakan metafor atau bahkan simbol.
Menyaksikan pertunjukan Bicaralah Tanah, membuat saya sebagai penonton—dan saya rasa hal yang sama terjadi pula pada sebagian besar penonton—agak kesulitan untuk menerka-terka struktur naskahnya: seting, flot, konflik, klimaks, dan sebagainya. Sebab pada pengakuan selanjutnya, sang sutradara menjelaskan bahwa teks lakon (Bicaralah Tanah) tidak patuh pada hukum dramaturgi. Peristiwa, ide, dan konflik dikonstruksi oleh tubuh dan geraknya.
Dengan pernyataan semacam ini, dapat dikatakan bahwa naskah Bicaralah Tanah tidak menjadi dasar bertolaknya pertunjukan. Dengan kata lain, naskah lakon Bicaralah Tanah hanya menjadi tuntunan dialog-dialog para aktornya. Dan barangkali, ketika kita hanya membaca teks naskahnya saja, kita tidak akan menemukan atau sukar mengimajinasikan pertunjukan semacam apa yang mungkin terjadi atau hadir dari teks naskah semacam ini. Dan jika kecurigaan ini benar, berarti naskah lakon Bicaralah Tanah tidak memungkinkan untuk dipentaskan oleh grup teater lain yang tidak disutradarai penulisnya sendiri.
Lain lagi dengan Kebinasaan Kan-nya Sanggar Matahari. Kebinasaan Kan bercerita tentang dua orang laki-laki yang terombang-ambing setelah bencana/perang atau kehancuran sebuah kota, mungkin juga suatu bangsa. Dari dialog-dialog yang diujarkan aktor-aktornya, nampak bahwa naskah Kebinasaan Kan menganggat tema-tema besar, dengan kata-kata yang juga “besar”. Kehancuran, bencana, ilmu pengetahuan, schizophrenia, dibicarakan dari sisi filsafat. Seakan-akan naskah Kebinasaan Kan mencoba berfilsafat mengenai peristiwa-peristiwa tersebut. Hanya saja, filsafat yang coba disodorkan nampaknya hanyalah kerumitan-kerumitan filosofi yang banal, tanpa penyederhanaan untuk mempermudah pencernaan kata-kata atau kalimat-kalimat rumit tersebut. Naskah Kebinasaan Kan hanyalah kerumitan-kerumitan filsafat belaka.
Dari ketiga naskah yang saya soal di atas, menunjukkan gejala yang cukup kritis: para penggiat teater kesulitan dalam hal penggarapan naskah. Mereka lebih asyik-masyuk menggeluti olah-tubuh, olah-vokal, dan sebagainya, tanpa mempelajari teknik atau pembiasaan menulis naskah. Dan barangkali, kita juga membutuhkan standarisasi naskah lakon yang layak untuk dipentaskan.
Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah betul naskah lakon yang baik hanya mungkin dihasilkan para sastrawan di luar penggiat teater? Jika demikian, kita hanya tinggal menunggu saja kematian total regenerasi penulis naskah lakon, dan menyaksikan pertunjukan-pertunjukan teater tanpa naskah, tanpa dialog. Tinggal gerak, bunyi-bunyian, properti, yang akan berubah menjadi simbol-simbol abstrak yang sukar dipahami. Pertunjukan-pertunjukan teater absurd yang tetap berjarak dari masyarakatnya. Padahal, bukankah teater Indonesia sejauh ini sudah sangat berjarak dengan publik? Teater Indonesia masih asing bagi masyarakatnya sendiri? Dan bukankah teater juga merupakan media penyadaran untuk dikonsumsi dan dicerna publik?
Penikmat teater, Mahasiswa Diksatrasia Untirta.
0 komentar:
Poskan Komentar