Minggu, 10 Oktober 2010

Gilalova; Siapa yang Gila?

Oleh Niduparas Erlang

Judul : Gilalova; Segila-gilanya Cinta
Penulis : Ahmad Wayang, dkk. (25 Cerpenis Remaja Banten)
Penerbit : Gong Publishing
Tebal : 179 halaman
Harga : Rp. 50.000,-

Cukup menggembirakan ketika Gong Publishing—sebuah penerbit baru dan satu-satunya di Serang—memberikan perhatian lebih pada cerita pendek (cerpen), yang belakangan dianggap sebagaian besar penerbit kalau trend kumpulan/antologi cerpen tengah menurun, tertinggal jauh jika dibandingkan dengan trand novel, misalnya, menerbitkan antologi cerpen Gilalova; Segila-gilanya Cinta karya 25 penulis remaja Banten. Paling tidak, ikhtiar ini disambut baik oleh kalangan para cerpenis remaja Banten—sebut saja begitu—bahkan dengan semangat yang “menggila” antologi ini di-launching di beberapa kota di Banten.
Tidak dimungkiri, bahwa sebagian penulis yang karyanya terangkum dalam antologi Gilalova; Segila-gilanya Cinta adalah mereka yang aktif menulis dan bahkan sudah “berhasil” memublikasikan karya-karya mereka lewat media massa cetak dan atau elektronik, baik lokal maupun nasional. Dan saya kira, beberapa penulis remaja lainnya yang katakanlah masih berada dalam ruang tunggu, menunggu kesempatan baik untuk dapat mengorbitkan karyanya baik berupa antologi bersama—Gilalova #2, barangkali—maupun kumpulan cerpen tunggal, menggelegak semangat yang sama dan tersulut gairah berkarya untuk paling tidak mengalami hal yang sama dengan 25 penulis remaja Banten yang “keren-keren” ini.
Namun tiada yang benar-benar membuat saya gila ketika membaca antologi cerpen Gilalova; Segila-gilanya Cinta. Saya cukup terhenyak. Bagaimana mungkin seperti ini? Pasti ada yang salah dalam pembacaan saya, karena sebelumnya saya sudah membayangkan akan mendapati kisah-kisah tentang cinta yang mungkin sama dahsyatnya dengan Layla Majenun-nya Nizami atau Romeo Juliet-nya Shakespeare. Maka saya mengulangi pembacaan atas 25 judul cerpen yang termaktub dalam antologi ini dengan menyingkirkan harapan semula.
Secara garis besar—dalam hal ini saya tak ingin bersepakat dengan editor maupun penerbit dalam pengantar antologi ini—cinta sebagai tema yang tak pernah habis digali-dikuliti, dalam antologi Gilalova; Segila-gilanya Cinta taklah jauh berbeda dengan cinta-cintaan a la sinetron atau film televisi. Stereotipe. Dan melulu begitu-begitu saja.
Walaupun upaya untuk menggunakan setting lokal dalam hal ini Banten, cukup kuat terasa, nyaris dalam semua cerpen dalam antologi ini. Kita akan banyak mendapati tempat-tempat seperti Cipanas, Ciberang, Ciceri, Ciloang, Bayah, Taman Sari, Royal, Banten Lama, dan sebagainya dalam antologi ini. Barangkali setting tempat inilah yang hedak kawan-kawan penulis remaja ini tawarkan pada dunia percerpenan mutakhir Indonesia. Hanya saja, nilai-nilai lokalitas yang dihadirkan dengan cara sekaligus gaya penulisan cerpen-cerpen dalam Gilalova; Segila-gilanya Cinta—yang saya pikir lebih menitikberatkan pada cerpen sebagai suatu bacaan yang menghibur—akan mudah saja digantikan atau diubah dengan setting tempat yang lain karena masih sebatas permukaan, belum menukik pada nilai-nilai luhur yang esensial. Jadi saya kira, lokalitas yang hendak disodorkan ini belumlah cukup kuat untuk menopang bangunan dalam cerita.
Cerpen sebagai suatu hiburan, misalnya, akan kita dapati dalam cerpen Arjuna Mencari Kebo karya Langlang Randhawa. Cerpen yang medera tokoh utamanya, Agil (entah Agung?) yang menyebut dirinya “Arjuna” dengan kesialan yang datang menubi.
“Agil terhenyak. Menggigil lagi. Laparnya datang lagi. Dengkulnya lemas. Pandangannya berkunang. Lengkap sudah 100 cewek yang gagal ia dekati. Cinta Arjuna pada Ratu terjegal perkawinan Abahnya. Agil dan Ratu bakal jadi saudara tiri. Sambil meringis pilu, Arjuna yang berpakaian sport keren itu bersama Abahnya melintasi Ratu dan Mamahnya. Di tangan Agil ada sebuah tambang besar yang mengeluarkan aroma kerbau.” (hal. 54).
Cerpen lain memang seperti memawarkan suatu alternatif dengan memasukkan bahasa daerah, seperti dalam cerpen Pageran Berkuda Besi-nya Muhzen Den yang menggunakan bahasa Jawa Serang sebagai bagian dari dialog, misalnya. Sedangkan beberapa cerpen lain memasukkan unsur-unsur yang identik dengan Banten, seperti santet, pelet, tradisi muludan, kejawaraan, dan sebagainya. Namun, sekali lagi, kelemahan bercerita masih didapati di sana-sini.
Sementara itu, cerpenis yang cukup potensial untuk mengangkat tema yang cukup serius, dengan gaya bercerita yang “melebihi” rata-rata cerpenis-cerpenis lain dalam antologi ini, saya pikir dimiliki Itara Azkiya lewat cerpennya Sunar dan Perempuan Seksi. Tokoh Sunar, seorang penulis yang tengah melakukan riset untuk projek karya fiksinya yang lain, didasarkan pada mimpinya bertemu perempuan seksi dalam becak, masih terus menunggu perempuan itu sampai akhirnya Sunar memutuskan untuk menjadi tukang becak.
Motif tindakan tokoh-tokoh dalam cerpen ini cukup kuat. Apalagi, diakhir cerita, sang narator menghentak pembacanya dengan menjadikannya sebagai bagian dari cerita—padahal sepanjang cerpen Sunar dan Perempuan Seksi ini berlangsung, Itara Azkiya menggunakan sudut pandang “dia mahatahu”:
“Barangkali kamu berniat mengunjungi Serang, mampirlah ke sana. Jangan lupa, naiklah becak kalau tujuannya ke Mal Serang. Sunar selalu mengenakan Kaos oblong bergambar perempuan-perempuan seksi mengenakan kaca mata hitam, dan topi berlogo kelinci. Perawakannya tinggi namun kurus. Gayanya cuek begitupun ketika ia berbicara. Ia kerap mangkal di kawasan Pocis Royal sambil merokok.
Singgahlah. Siapa tahu, kamulah yang selama ini ditunggunya!” (hal. 40)
Untuk selebihnya, saya masih mendapati banyaknya ketidakkonsistenan para cerpenis remaja ini dalam menggunakan sudut pandang/narator “aku” yang kadang-kadang berubah begitu saja menjadi “saya”, masih banyak terdapat dalam antologi cerpen ini. Kegagapan bercerita, pemilihan tema yang “besar” dan membuatnya terlampau sederhana tanpa riset yang mendalam, masalah plot, penyelesaian sebuah konflik, sampai pada pemilihan ending yang tergesa-gesa atau dipaksakan, menjadi masalah lain yang dihadapi para cerpenis ini.
Kelemahan lain dalam antologi cerpen ini adalah masalah yang cukup mendasar yang pasti dialami semua penulis pemula, yaitu soal penggunaan bahasa, ejaan, tanda baca, dan sebangsanya. Entahlah, saya menyangsikan peran editor dan co-editor dalam memperbaiki kesalahan-kesalahan sederhana namun cukup fatal ini. Yang kemudian membuat saya menduga-duga, jangan-jangan semua kesalahan semacam ini dikembalikan kepada penulisnya masing-masing. Dan jika dugaan ini benar, kiranya saya perlu menambahkan, untuk sekadar mengingatkan para penulis remaja ini, untuk kembali membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan belajar lagi tentang ejaan, tanda baca, dan sebagainya itu di samping terus mengasah kemampuan mengeksplorasi tema, bahasa, gaya. Mengingat, bahwa karya yang mereka hasilkan—dalam hal ini karya fiksi berupa cerpen—tidak hanya dibaca oleh orang-orang yang telah mengerti kesalahan-kesalahan kecil semacam ini yang tentu akan mudah saja memakluminya, namun juga dibaca atau bahkan mungkin ditiru oleh para (calon) penulis yang masih tertatih-tatih belajar membuat karya fiksi. Karena jika kesalahan kecil semacam ini terus saja dilanjutkan, bagaimana jadinya dengan para (calon) penulis tadi? Saya kira, seorang penulis memiliki tanggung jawab moral atas karya-karya yang dihasilkannya, untuk menumbuhsuburkan regenerasi penulis-penulis berikutnya yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Karena, seperti kata Gol A Gong dalam pengantar antologi ini, bahwa di tangan merekalah tradisi menulis akan terus dikembangkan, dan mereka juga sekaligus mengemban misi: membangkitkan kembali tradisi menulis di Banten!
Paling tidak, gairah kawan-kawan cerpenis remaja ini dengan semangatnya yang “menggila”—seperti dikatakan diawal tulisan ini—elah menularkan semangat yang sama besarnya kepada para penulis pemula lainnya untuk lebih kreatif dan terus berkarya.
Maka, kita memerlukan lompatan. Hoplaaa, kata Chairil Anwar. Dan tugas ini sepenuhnya diemban generasi muda, para penulis remaja Banten untuk menggantikan tradisi golok-bacok dengan pena-menulis-berkarya. Menggantikan tradisi kekerasan dengan dialog dan berwacana. Mengubah paradigma berpikir masyarakat Banten yang lebih menghargai (atau menakuti?) jawara tinimbang para intelektual. Selamat kepada para cerpenis Gilalova; Segila-gilanya Cinta. Lalu, siapakan yang benar-benar gila? [*]

Penikmat cerita, aktif di UKM Belistra FKIP Untirta.

0 komentar: