Senin, 22 November 2010

Tentang Ingatan dalam Rahasia Selma

Oleh Niduparas Erlang

Judul : Rahasia Selma
Penulis : Linda Christanty
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I : April 2010
Tebal : ix + 121 halaman
Harga : 30.000,-

Sebuah peristiwa muram, mengerikan, mengancam, kerap mendekam lebih lama dalam ingatan kita ketimbang peristiwa-peristiwa yang menyenangkan, yang menenangkan. Peristiwa masa lalu, memahat sendiri bentuk-bentuknya yang paling muram sekaligus curam dan menjadikan diri kita bulat-utuh pada masa kini. Barangkali karena itulah, banyak di antara kita yang menderita trauma karena penistaan, cemoohan, pengabaian, yang sering luput dari pengamatan namun mendekam keras dalam ingatan. Kita dicekam kesunyian berkepanjangan. Mederita dalam kesendirian yang perih. Secara psikologi, orang-orang yang tampaknya sehat, ceria, berbahagia, boleh jadi sebenarnya memiliki gangguan mental—meski tak melulu dapat dikategorikan gila. Dan semuanya ini bertumpu pada ingatan-ingatan, pada peristiwa-peristiwa lampau yang melatarinya.

Demikianlah pembacaan saya atas kumpulan cerita pendek (cerpen) Rahasia Selma karya Linda Christanty. Sebelas judul cerpen dalam kumpulan ini, yaitu Pohon Kersen, Menunggu Ibu, Kupu-kupu Merah Jambu, Mercusuar, Rahasia Selma, Kesedihan, Drama, Para Pencerita, Jazirah di Utara, Ingatan, dan Babe, adalah cerita-cerita yang menghadirkan sisi terkelam manusia yang tak pernah tampak ke permukaan. Hanya tokoh-tokoh yang mengalami “penderitaan-penderitaan” itulah yang tahu apa yang tengah terjadi pada dirinya dan menerpa jiwanya, tanpa sanggup untuk menerangjelaskan dan mempertontonkan duka-lara-deritanya pada orang lain. Tanpa sanggup untuk mengatakan “tidak” ketika realitas atau realitas virtual sekalipun menuntut untuk mengakatan “ya”. Itulah sebabnya, saya kira, cerpen-cerpen dalam kumpulan Rahasia Selma tampak suram sekaligus mencekam.
Dengan gaya tutur yang agak rumit untuk dirunut, ingatan-ingatan tokoh-tokohnya atau tuturan narator yang dihadirkan melalui pandangan dunia karakter utama—yang rata-rata orang biasa—saya kira cukup berhasil mengusik ketenteraman kita sebagai penikmat cerita. Ada gejolak liar yang bergolak di lapis bawah ketika kita berupaya menikmati permukaannya. Gaya bertuturnya melintasi ruang-waktu dan melintasi dimensi-dimensinya dengan sangat lembut, subtil, dengan merembeskan karakter-karakter tokohnya dari satu peristiwa ke peristiwa lain, dari satu tempat ke tempat lain, membaur dalam warna-warna kabur. Tokoh-tokoh cerita Linda Christanty jelas tidak hitam-putih, atau sekadar pertentangan baik dan buruk, superior-inferior, namun keduanya melebur dalam kekacauan warna dan membentuk kehidupan yang bulat-utuh-penuh.
Seperti kita dapati dalam cerpen “Pohon Kersen”—cerpen pembuka dalam kumpulan Rahasia Selma ini—di mana tokoh “aku”, sorang anak perempuan yang hidup dalam sebuah keluarga yang tampaknya berbahagia, penuh keceriaan, pengertian, namun ternyata memendam suatu permasalahan yang sangat personal. Bang Husni, cucu angkat Kakek yang tinggal serumah dengan keluarganya, melecehkan tokoh “aku” secara seksual yang menyebabkan “aku” sukar buang air kecil pada keesokan harinya.
Tubuhku panas, sepertinya demam. “Pohon kersen itu jangan ditebang,” pintaku pada kakek. Kakek meraba dahiku. “Kita lihat nanti,” jawabnya. Sambil menepuk-nepuk pundakku. Aku menangis.
Apakah kakek mengetahuinya? (Hal. 11)
Demikianlah, sebuah pengalaman penistaan—yang memang kerap dilakukan oleh orang-orang dekat—selalu didesakkan ke alam bawah sadar. “Aku” mengalihkannya pada pohon kersen di halaman rumahnya yang pada musim tertentu melulu dirimbuni ulat dan akan ditebang itu. Pohon kersen yang di atasnya ingin dibangunnya sebuah rumah pohon, agar “aku” tak perlu ke kamar mandi setiap malam ketika kepingin buang air kecil—kebiasaan yang dimanfaatkan Bang Husni untuk merayu dan kemudian “melecehkannya”.
Dalam realitas sosial, korban atau keluarga korban, memang kerap merasa malu jika sebuah peristiwa memalukan atau aib dalam keluarganya sampai menyebar dan diketahui banyak orang. Maka, hal serupa ini dianggap lebih baik jika ditutup rapat-rapat dan menjadi rahasia pribadi atau keluarga saja. Karena hukum sosial kerap lebih berat mendera ketimbang dipenjara. Dengan demikian, korban atau keluarga korban mendapat dua tekanan sekaligus, secara psikologis dan secara sosial.
Dalam cerpennya yang lain, Linda Christanty ternyata tidak melulu menempatkan perempuan sebagai korban-korban situasi tertentu, tetapi laki-laki juga bisa menjadi korban dari suatu peristiwa tertentu. Sekali lagi, cerpen-cerpen Linda bukan sekadar masalah hitam-putih, tidak sekadar superior-inferior. Karena, misalnya, pelecehan seksual semasa kecil ternyata juga kita dapati dalam cerpen “Kupu-Kupu Merah Jambu”. Dalam cerpen ini, tokoh “Ia” dilecehkan secara seksual justru bukan oleh orang “biasa”, melainkan oleh seorang guru mengaji yang kerap menghukum anak didiknya yang tidak dapat menghafalkan atau salah melafalkan ayat al-Quran. Pelecehan seksual yang dilakukan seorang guru terhadap anak didiknya adalah sebuah realitas yang juga dapat kita saksikan di layar televisi kita.
Guru mengajinya menghukum murid laki-laki maupun perempuan di kamar gelap tiap kali mereka salah melafalkan ayat. Akibat hukuman itu ia sukar buang air besar berminggu-minggu. Dua teman perempuannya tidak datang mengaji lagi. Orang-orang kampung berbisik-bisik keduanya hamil gara-gara tidak sanggup mengucap ayat-ayat suci dengan benar. “Sebaik-baiknya hukuman lebih baik datang dari manusia sebelum hukuman dari Allah yang lebih dahsyat itu membakar dan memanggang kamu semua di api neraka,” kata sang guru, dengan suara diseram-seramkan. (Hal. 34)
Akibat hukuman dari guru mengajinya, hukuman ayah yang membiarkannya kelaparan dan kedinginan di halaman gara-gara mogok mengaji, juga akibat ejekan saudara dan temannya ketika “Ia” mencoba slop dan kebaya Ibu semasa kecil ini, “Ia” kemudian terlibat dalam sebuah prostitusi dan menjadi waria. Namun, tokoh “Ia” memilih—katakan jalan ke luar—dari masalahnya dengan membunuh salah satu pelanggannya, tidak seperti tokoh “aku” yang mencari alternatif “ingin memiliki rumah pohon” untuk menyelamatkan diri.
Setiap orang, laki-laki atau perempuan, tentu akan mencari jalan ke luar dari setiap masalah yang telah atau tengah membelenggunya. Dan membunuh menjadi pilihan tokoh “Ia” untuk menyelesaikannya. Namun, saya pikir, Linda Christanty tidak sedang menyarankan para pembacanya untuk melakukan hal sama dengan tokoh “Ia”—membunuh atau bunuh diri—demi menemukan jalan ke luar. Barangkali, proses menyelesaikan untuk menemu jalan ke luar seperti yang dilakukan tokoh “aku” dalam cerpen “Pohon Kersen”-lah yang coba ditawakan Linda pada pembacanya.
Sementara, dalam cerpen “Kesedihan” kita mendapati suatu hubungan rumit antara tokoh “aku” (perempuan) dengan mantan suaminya yang kemudian menikahi perempuan lain, namun mereka masih tinggal satu rumah, dan barangkali masih mencintai satu sama lain.
Segalanya tampak berjalan lancar. Kita tetap tinggal bersama dan kamu kini memiliki seseorang. Namun, perubahan yang menyesakkan itu terjadi juga. (hal. 70)
Dan saya pikir, nyaris semua cerpen Linda Christanty dalam kumpulan cerpen Rahasia Selma ini, memaparkan suara lain tokoh-tokohnya yang kerap luput dari pengamatan. Peristiwa-peristiwa lampau yang mendekam dalam ingatan. Dan ingatan-ingatan yang mendorong kehendak untuk mengatakan “tidak”—namun terus ditekan ke alam bawah sadar—karena realitas menuntut untuk tetap mengatakan “ya”. Maka ego mesti terus berkompromi, menekan id, karena sistem masyarakat sosial (super ego) masih kita butuhkan.
Di samping itu, yang cukup menarik perhatian saya adalah pencatatan detail Linda Christanty dalam cerpen-cerpennya, yang seolah-olah disinggung sambil lalu tanpa pretensi untuk menjelaskan panjang lebar, yang mengingatkan saya pada cerpen-cerpen Jhumpa Lahiri—pemenang Pulitzer Prize tahun 2010—lewat kumpulan cerpen Interpreter of Maladies, meskipun gaya bertutur Jhumpa Lahiri jauh lebih sederhana….
Dan barangkali, Rahasia Selma adalah rahasia Linda Christanty? [*]

*) Penikmat cerita, dan tengah menyiapkan kumpulan cerpen pertamanya berjudul La Rangku. Aktif bergiat di UKM Belistra FKIP Untirta.


[dipulikasi di Radar Banten, 21 November 2010]

0 komentar: