Oleh Niduparas Erlang
Pada sebuah siang
yang lumayan terik, di awal bulan Oktober 2010, saya berjalan-jalan menyusuri
jalanan kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten yang padat
dengan hiruk pikuk mahasiswa yang tengah menjalani aktivitasnya masing-masing.
Motor-motor berderet, mobil-mobil berdempetan, dan nyaris tak menyisakan ruang
untuk para pejalan. Namun, karena waktu itu pikiran saya sedang suntuk,
kebetulan tak ada jadwal kuliah pula, maka saya resapi setiap langkah di kampus
Sultan yang telah tiga tahun “menampung” saya sebagai salah satu mahasiswanya
ini.
“Ini kampus
hebat,” decak saya dalam hati. Betapa tidak, setiap tahunnya kampus ini selalu
kebanjiran calon-calon mahasiswa yang siap mengenyam dan menggali ilmu
pengetahuan di sini. Saking membludaknya minat lulusan SMA/SMK/MA dan sederajat
untuk menjadi mahasiswa di kampus Sultan ini, maka khusus tahun ini—entah
berlanjut atau tidak—Auditorium yang biasanya digunakan aktivis-aktivis kampus
untuk menggelar beragam kegiatan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) pun disulap
menjadi ruang kelas. Meskipun hal ini kemudian menimbulkan kegeraman para
aktivis tersebut, hingga mereka sempat menggelar aksi demonstrasi di depan
Rektorat, namun toh kebijakan kampus tak mudah diubah
begitu saja. Aktivis memang reaktif. Segala kebijakan baik yang datangnya dari
kampus sendiri maupun dari pemerintah kerap ditanggapi dengan sikap-sikap
kritis. Akan tetapi, saya kira tuntutan-tuntutan mereka kerap dibenturkan
realitas, sekalipun hanya sekadar dibenturkan realitas virtual.
Karena tidak
menutup kemungkinan, seorang aktivis yang turut melakukan aksi demonstrasi
mempertanyakan kebijakan kampus tentang pengalihfungsian ruang Auditorium
menjadi ruang kelas, adalah seorang yang dilematis. Misalnya, di satu sisi ia
bangga karena kampusnya diminati banyak lulusan SMA yang datang dari berbagai
daerah dan kultur budaya. Di sisi lain, ia marah karena salah satu fasilitas
kemahasiswaan ditiadakan karena penerimaan mahasiswa baru melebihi kuota atau
tidak sebanding dengan fasilitas yang dimiliki kampusnya. Dan, di sisi lainnya
lagi, ia tak tega, iba, kepada adik-adik tingkatnya yang baru jika tak bisa
berkuliah sementara dirinya tetap ngotot menggunakan Auditorium sebagai tempat
berkegiatan Ormawa.
“Mau belajar di
mana kawan-kawan baru kita….” Barangkali itulah kalimat yang akan tercuat. Dan
barangkali juga, salah satu di antara mahasiswa-mahasiswa baru itu adalah adik
kandung sang aktivis yang bisa menjadi mahasiswa di kampus Sultan ini melalui
jalur “belakang”. Portal ajaib, barangkali. Ahai…, tak ada yang tak mungkin di
negeri ini. Jadi, hal demikian bisa pula terjadi di sini. Segalanya bisa
terjadi, dan mungkin. Semungkin hujan yang turun tiba-tiba di tengah udara siang
yang menyengat.
Tetapi siang itu
hujan tak turun. Dan saya masih terus berjalan, sembari sesekali bertegur sapa,
sekadar berbasa-basi, dengan beberapa kawan aktivis yang kini tengah membuka stand-stand pendaftaran atau penerimaan calon
anggota baru Ormawa-ormawa—baik intrakampus maupun ekstrakampus. Dan tentu saja
sasaran mereka adalah para mahasiswa semester satu, yang kelak digemblengnya
menjadi generasi pelanjut untuk meneruskan roda organisasinya. Maka, lazimnya
orang berjualan, kawan-kawan aktivis itu pun menawarkan bermacam fasilitas
untuk menarik perhatian mahasiswa. Dari mulai pin, stiker, kaos, sertifikat, snack, penginapan dan makan
selama pelatihan, outbound dan sebagainya dan sebagainya.
Namun, dari sekian
Ormawa yang nyaris menawarkan fasilitas-fasilitas serupa, ada beberapa
Ormawa—tak perlu saya sebutkan di sini—yang cukup menohok saya karena
menawarkan “Ilmu” atau “Ilmu yang Bermanfaat” sebagai salah satu fasilitas yang
dapat diberikan Ormawanya kepada calon anggota baru. Ah, ketololan macam apa
ini?
Sungguh, saya tak
habis pikir kepada kawan-kawan aktivis yang sepertinya dengan senang hati,
riang gembira, menunjukkan ketololannya kepada calon-calon anggota yang hendak
direkrutnya menjadi bagian dari organisasi mereka. Batapa tidak, frase itu tercetak
terang-jelas di spanduk, baliho, dan famplet kegiatan Ormawa-ormawa itu. Bahkan
menempati urutan pertama dalam fasilitas yang akan diberikan kepada anggota
barunya. Saya membayangkan, “Ilmu” atau “Ilmu yang Bermanfaat” yang mereka
tawarkan itu serupa atau satu genus dengan toilet umum. Ah, sungguh, ini sebuah
kekonyolan teramat buruk yang dilakukan mahasiswa (aktivis) yang konon adalah agent of change. Dan saya
merenung-renung, calon anggota (baca: mahasiswa) tolol mana yang bersedia
mendaftarkan diri menjadi calon anggota jika para pengrekrutnya adalah
orang-orang tolol?
Maaf, pembaca yang
budiman, jika terlalu banyak kata “tolol” dalam tulisan ini. Namun, sungguh,
saya tak habis pikir dengan hal ini. Karena jika seandanya pun para aktivis itu
tidak tahu, saya kira kata “Ilmu” atau frasa “Ilmu yang Bermanfaat” tidak akan
begitu saja bertengger di spanduk, baliho, atau famplet dan menjadi salah satu
fasilitas yang ditawarkan, melainkan akan mereka diskusikan terlebih dahulu
kebenaran atau kekeliruan penggunaannya. Bukankah tiap-tiap Ormawa adalah juga
tempatnya diskusi-diskusi segar tergelar?
Baiklah, saya
mulai saja dengan sebuah pertanyaan: apakah ilmu atau ilmu yang bermanfaat sama
dengan toilet umum? Saya kira semuanya akan sepakat dengan jawaban bahwa ilmu
apalagi ilmu yang bermanfaat tidak sama dengan toilet. Maka, tak sepantasnyalah
para mahasiswa menyejajarkan, atau bahkan menganggap ilmu lebih rendah dari
toilet dengan menjadikannya sebagai salah satu fasilitas. Bukankah mahasiswa
adalah para calon intelektual? Dan karena saya tak hendak menggurui dalam
tulisan ini, kiranya saya hanya perlu menyarankan kepada kawan-kawan aktivis
kampus yang terlampau cerdas itu, untuk sesekali saja menengok kamus. Lihatlah,
apakah yang dimaksud dengan fasilitas? Silakan cari dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI).
Namun, jika
ternyata para aktivis itu enggan untuk membuka kamus, atau memang tak punya
kamus, baiklah saya terpaksa mengutipkannya di sini: Fasilitas (dalam KBBI
edisi ketiga) yaitu sarana untuk melancarkan pelaksanaan fungsi; kemudahan.
Nah, karena fasilitas itu sarana, jadi sifatnya konkret. Bisa diindrai. Semacam
alat atau media. Seperti, ya, toilet umum di bandara, di terminal, dan
sebagainya yang merupakan fasilitas umum. Atau rumah sakit jiwa yang merupakan
fasilitas sosial.
Jadi, tentu saja
“Ilmu” apalagi “Ilmu yang Bermanfaat” itu bukanlah fasilitas. Karena ilmu itu
abstrak. Dan tak bisa diindrai.
Demikianlah.
Karena hari masih saja panas, dan perut saya sudah mulai dangdutan, akhirnya
saya harus keluar area kampus, untuk sekadar menca(u)ri makanan guna mengurangi
tegangan. Dan terakhir, kalau saya boleh saran, sepertinya menarik juga jika
kawan-kawan Ormawa menawarkan fasilitas berupa “tiket ke surga” bagi para calon
anggotanya. Hahaha…. [*]
Serang, 20
Oktober 2010
*) Penulis adalah bakal calon Presma
Untirta, kandidat terkuat versi Aliansi Mahasiswa PKM Belakang (AMPB) dan
Aliansi Aktivis Takut Pacar (AATP)
1 komentar:
Hahaha kacau kau, gimana mau jadi Presma kl ke kampus aja gak pernah.. :))
Poskan Komentar