Sabtu, 01 Oktober 2011

Fasilitas: “Tiket ke Surga”

Oleh Niduparas Erlang

Pada sebuah siang yang lumayan terik, di awal bulan Oktober 2010, saya berjalan-jalan menyusuri jalanan kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten yang padat dengan hiruk pikuk mahasiswa yang tengah menjalani aktivitasnya masing-masing. Motor-motor berderet, mobil-mobil berdempetan, dan nyaris tak menyisakan ruang untuk para pejalan. Namun, karena waktu itu pikiran saya sedang suntuk, kebetulan tak ada jadwal kuliah pula, maka saya resapi setiap langkah di kampus Sultan yang telah tiga tahun “menampung” saya sebagai salah satu mahasiswanya ini.

“Ini kampus hebat,” decak saya dalam hati. Betapa tidak, setiap tahunnya kampus ini selalu kebanjiran calon-calon mahasiswa yang siap mengenyam dan menggali ilmu pengetahuan di sini. Saking membludaknya minat lulusan SMA/SMK/MA dan sederajat untuk menjadi mahasiswa di kampus Sultan ini, maka khusus tahun ini—entah berlanjut atau tidak—Auditorium yang biasanya digunakan aktivis-aktivis kampus untuk menggelar beragam kegiatan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) pun disulap menjadi ruang kelas. Meskipun hal ini kemudian menimbulkan kegeraman para aktivis tersebut, hingga mereka sempat menggelar aksi demonstrasi di depan Rektorat, namun toh kebijakan kampus tak mudah diubah begitu saja. Aktivis memang reaktif. Segala kebijakan baik yang datangnya dari kampus sendiri maupun dari pemerintah kerap ditanggapi dengan sikap-sikap kritis. Akan tetapi, saya kira tuntutan-tuntutan mereka kerap dibenturkan realitas, sekalipun hanya sekadar dibenturkan realitas virtual.

Karena tidak menutup kemungkinan, seorang aktivis yang turut melakukan aksi demonstrasi mempertanyakan kebijakan kampus tentang pengalihfungsian ruang Auditorium menjadi ruang kelas, adalah seorang yang dilematis. Misalnya, di satu sisi ia bangga karena kampusnya diminati banyak lulusan SMA yang datang dari berbagai daerah dan kultur budaya. Di sisi lain, ia marah karena salah satu fasilitas kemahasiswaan ditiadakan karena penerimaan mahasiswa baru melebihi kuota atau tidak sebanding dengan fasilitas yang dimiliki kampusnya. Dan, di sisi lainnya lagi, ia tak tega, iba, kepada adik-adik tingkatnya yang baru jika tak bisa berkuliah sementara dirinya tetap ngotot menggunakan Auditorium sebagai tempat berkegiatan Ormawa.
“Mau belajar di mana kawan-kawan baru kita….” Barangkali itulah kalimat yang akan tercuat. Dan barangkali juga, salah satu di antara mahasiswa-mahasiswa baru itu adalah adik kandung sang aktivis yang bisa menjadi mahasiswa di kampus Sultan ini melalui jalur “belakang”. Portal ajaib, barangkali. Ahai…, tak ada yang tak mungkin di negeri ini. Jadi, hal demikian bisa pula terjadi di sini. Segalanya bisa terjadi, dan mungkin. Semungkin hujan yang turun tiba-tiba di tengah udara siang yang menyengat.
Tetapi siang itu hujan tak turun. Dan saya masih terus berjalan, sembari sesekali bertegur sapa, sekadar berbasa-basi, dengan beberapa kawan aktivis yang kini tengah membuka stand-stand pendaftaran atau penerimaan calon anggota baru Ormawa-ormawa—baik intrakampus maupun ekstrakampus. Dan tentu saja sasaran mereka adalah para mahasiswa semester satu, yang kelak digemblengnya menjadi generasi pelanjut untuk meneruskan roda organisasinya. Maka, lazimnya orang berjualan, kawan-kawan aktivis itu pun menawarkan bermacam fasilitas untuk menarik perhatian mahasiswa. Dari mulai pin, stiker, kaos, sertifikat, snack, penginapan dan makan selama pelatihan, outbound dan sebagainya dan sebagainya.
Namun, dari sekian Ormawa yang nyaris menawarkan fasilitas-fasilitas serupa, ada beberapa Ormawa—tak perlu saya sebutkan di sini—yang cukup menohok saya karena menawarkan “Ilmu” atau “Ilmu yang Bermanfaat” sebagai salah satu fasilitas yang dapat diberikan Ormawanya kepada calon anggota baru. Ah, ketololan macam apa ini?
Sungguh, saya tak habis pikir kepada kawan-kawan aktivis yang sepertinya dengan senang hati, riang gembira, menunjukkan ketololannya kepada calon-calon anggota yang hendak direkrutnya menjadi bagian dari organisasi mereka. Batapa tidak, frase itu tercetak terang-jelas di spanduk, baliho, dan famplet kegiatan Ormawa-ormawa itu. Bahkan menempati urutan pertama dalam fasilitas yang akan diberikan kepada anggota barunya. Saya membayangkan, “Ilmu” atau “Ilmu yang Bermanfaat” yang mereka tawarkan itu serupa atau satu genus dengan toilet umum. Ah, sungguh, ini sebuah kekonyolan teramat buruk yang dilakukan mahasiswa (aktivis) yang konon adalah agent of change. Dan saya merenung-renung, calon anggota (baca: mahasiswa) tolol mana yang bersedia mendaftarkan diri menjadi calon anggota jika para pengrekrutnya adalah orang-orang tolol?
Maaf, pembaca yang budiman, jika terlalu banyak kata “tolol” dalam tulisan ini. Namun, sungguh, saya tak habis pikir dengan hal ini. Karena jika seandanya pun para aktivis itu tidak tahu, saya kira kata “Ilmu” atau frasa “Ilmu yang Bermanfaat” tidak akan begitu saja bertengger di spanduk, baliho, atau famplet dan menjadi salah satu fasilitas yang ditawarkan, melainkan akan mereka diskusikan terlebih dahulu kebenaran atau kekeliruan penggunaannya. Bukankah tiap-tiap Ormawa adalah juga tempatnya diskusi-diskusi segar tergelar?
Baiklah, saya mulai saja dengan sebuah pertanyaan: apakah ilmu atau ilmu yang bermanfaat sama dengan toilet umum? Saya kira semuanya akan sepakat dengan jawaban bahwa ilmu apalagi ilmu yang bermanfaat tidak sama dengan toilet. Maka, tak sepantasnyalah para mahasiswa menyejajarkan, atau bahkan menganggap ilmu lebih rendah dari toilet dengan menjadikannya sebagai salah satu fasilitas. Bukankah mahasiswa adalah para calon intelektual? Dan karena saya tak hendak menggurui dalam tulisan ini, kiranya saya hanya perlu menyarankan kepada kawan-kawan aktivis kampus yang terlampau cerdas itu, untuk sesekali saja menengok kamus. Lihatlah, apakah yang dimaksud dengan fasilitas? Silakan cari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Namun, jika ternyata para aktivis itu enggan untuk membuka kamus, atau memang tak punya kamus, baiklah saya terpaksa mengutipkannya di sini: Fasilitas (dalam KBBI edisi ketiga) yaitu sarana untuk melancarkan pelaksanaan fungsi; kemudahan. Nah, karena fasilitas itu sarana, jadi sifatnya konkret. Bisa diindrai. Semacam alat atau media. Seperti, ya, toilet umum di bandara, di terminal, dan sebagainya yang merupakan fasilitas umum. Atau rumah sakit jiwa yang merupakan fasilitas sosial.
Jadi, tentu saja “Ilmu” apalagi “Ilmu yang Bermanfaat” itu bukanlah fasilitas. Karena ilmu itu abstrak. Dan tak bisa diindrai.
Demikianlah. Karena hari masih saja panas, dan perut saya sudah mulai dangdutan, akhirnya saya harus keluar area kampus, untuk sekadar menca(u)ri makanan guna mengurangi tegangan. Dan terakhir, kalau saya boleh saran, sepertinya menarik juga jika kawan-kawan Ormawa menawarkan fasilitas berupa “tiket ke surga” bagi para calon anggotanya. Hahaha…. [*]

Serang, 20 Oktober 2010

*) Penulis adalah bakal calon Presma Untirta, kandidat terkuat versi Aliansi Mahasiswa PKM Belakang (AMPB) dan Aliansi Aktivis Takut Pacar (AATP)

1 komentar:

Tee Talope mengatakan...

Hahaha kacau kau, gimana mau jadi Presma kl ke kampus aja gak pernah.. :))