Oleh Niduparas Erlang
*) untuk banyak perempuan
Langit murung. Lanskap lengang. Hujan
mericik miris, dan sesekali panas menyengat sengak. Namun orang-orang masih
mengatakan hal yang sama, masih menggunjingkan yang itu-itu juga.
Nasihat-nasihatnya masih serupa pula. Diulang-ulang, berulang-ulang. Entah
telah berapa ratus kali menubi.
“Kamu punya hak
untuk mendapatkan cintamu. Mengejarnya. Mendapatkannya. Memilikinya. Dan
berbahagia dengannya,” kata salah seorang di antaranya.
Tentu, kataku,
siapa pun berhak mengupayakan cintanya. Kalau perlu sampai detak nadi terhenti.
Tapi tentu saja itu berlaku umum. Sangat umum. Dan karena keumumannya, maka ia,
kamu, mereka, juga memiliki hak yang sama. Cinta yang sama.
Dan aku
mencintaimu, memang. Dengan demikian aku berhak mengejar, menangkap, dan
memeroleh cinta yang sama darimu. Berharap berbalas—meski hanya sebuah konsep
narsistik aktif. Kalau perlu sampai ingatan-ingatan menjadi bom waktu dan
meledakkan kepalaku, aku akan terus mencintaimu, sembari berupaya dan
menunggumu sampai kamu jengah dan mencintaiku juga akhirnya.
Akan tetapi, ia
mencintaiku. Dan dengan demikian pula, ia berhak mengejar, menangkap, dan
memeroleh cinta yang sama dariku. Aku sekadar mengapresiasi agresivitasnya,
barangkali. Karena aku tahu, kalau perlu ia akan sampai mati mencintaiku, terus
mencintai, sembari berupaya dan bersabar menungguku untuk berpaling darimu dan
mencintai ia.
Dan kamu mungkin
mencintaiku, mungkin tidak. Mungkin, tidak mungkin. Karena mungkin kamu
mencintai orang lain di luar lingkaran ini. Dan tentu, kamu juga punya hak
untuk mengejar, menangkap, dan memeroleh cinta dari seorang yang kamu
cintai—yang kamu pertaruhkan itu. Kalau perlu sampai jantungmu melemah, dan
darah beku di sendi-sendi, kamu terus mencintainya. Melulu mencintainya. Melulu
mencintaiku?
Lantas, apa yang
masih bisa kita lakukan? Tiada! Segalanya nisbi, dan gampang meniada.
Kita hanya bisa
terseyum, sesekali tertawa terbahak-bahak, barangkali. Sebab tindakan-tindakan,
putusan-putusan, kerap mengantarkan kejutan-kejutan tak tertuga di belakangnya.
Kadang kita menyesalinya. Kadang mensyukurinya. Kadang tak memedulikannya. Dan
apa yang masih bisa kita putuskan? Menunggu? Oh, betapa... Atau tergerak dan
mengupayakan apa-apa yang disarankan beberapa kawan—melakoni sebuah laku yang
umum itu? Mengejar cinta....dan bla bla bla....
Barangkali, hanya
keberterimaan bakal menjadi yang ter-, yang paling. Ikhlas saja. Madah saja.
Ini juga sebuah putusan, sebuah simpulan yang diurai dari benang kusut masai.
Berterima. Maka terimalah.... terima kasih. [*]
0 komentar:
Poskan Komentar