Sabtu, 01 Oktober 2011

Mencinta dangan Rasional dan Irasional


Ydh., A.F.

Karena taring kata-kata telah kehabisan bisa
Karena kembang tuturan mudah layu dan terhempas angin
Kutulis prasasti ini dari luka dari duka dalam-panjang
Sebagai isyarat malam mendung murung tak kunjung hujan

Salam,
Maaf aku menulis ini, karena ujaran seringkali tak mampu mewakili apa-apa yang aku pikirkan, yang hendak kukatakan. Dan kukira, sesuatu yang tertulis kadang lebih jujur dari apa pun yang terucapkan. Sementara kata-kata—utamanya untuk beretorika atau sekadar berbasa-basi—kerap digunakan untuk kebohongan-kebohongan. Ah, kebohongan. Sesuatu yang kosong melompong, tanpa isi, meski tampil perbawa di depan hidung kita dan bahkan penuh renda bunga-bunga—memesona seolah surga.

Akuilah, bahwa kita pernah juga saling berbohong, pernah saling mengkhianati diri, mengkhianati semesta masing-masing. Bagiku, meski berbohong nampak begitu sederhana namun ternyata cukup sukar juga. Meski tak dimungkiri aku lumayan piawai—kata beberapa kawan yang senang memuji yang barangkali mengharap pujian kembali—dalam merajut, menukil, merawi, cerita-cerita fiksi. Tapi berbohong nyatanya tetap saja sulit. Dan yang lebih sulit lagi adalah menutupi kebohongan dengan kebohongan-kebohongan berikutnya. Terus-menerus berbohong. Hingga kita bertungkus-lumus mencari cara dan barangkali juga teknik untuk melancarkan kebohongan-kebohongan selanjutnya, demi menutupi segala kebohongan yang pernah dibuat sekali waktu.
Barangkali, karena hal semacam inilah, dulu—dulu sekali—nenek sering mengingatkan agar aku bersikap jujur, terbuka, dan selalu berprasangka baik. Katakan dan ungkapkan—meski tak melulu dibicarakan—apa pun dengan terang-jelas. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Karena toh, bangkai yang dikubur pun suatu kali akan terkuak dan tercium juga busuknya. Demikian kata beliau.
Dan inilah kebohonganku pertama-tama:
Adakah aku benar mencintaimu, menyayangimu, dengan sungguh-sungguh, dengan segenap rasa segenap hati, sebulat tekad seutuh hasrat? Jawabannya barangkali akan membuatmu terhenyak terjerembab tersungkur tersedu-sedu. Atau barangkali kau akan terisak meraung meradang, hingga perlahan satu dua berguliran bulir-bulir bening hujan dari matamu yang tanggul. Seperti biasa kau lakukan. Ya, De, aku mencintaimu secara rasional. Sekadar mencinta dengan sekujur kesadaran. Dan kita tahu belaka, kalau kesadaran terletak di balik batok kepala, bukan di balik sebidang dada. Itulah mengapa, aku selalu mampu menjawab tanyamu tentang kenapa aku mencintaimu. Meski tak melulu kuutarakan, meski lebih sering kutekan dan tak kubiarkan meloncat lepas lewat nganga mulutku.
Aku mencintai perempuan lain, De. Ah, mengapa aku bisa mencintai ia dengan sebenar-benarnya rasa sebesar-besarnya hati? Entahlah. Barangkali ini adalah (hanyalah) efek lain dari apa-apa yang pernah kau paksa-aturkan terhadapku. Sementara aku, entah mengapa, memiliki kecenderungan untuk selalu memberontaki apa-apa yang dipaksa-diaturkan.
Baiklah, agaknya kita mesti kembali ke lampau waktu yang biru. Ke sebuah titik, di sebuah waktu yang lugu, kau pernah melarangku untuk berakrab-ria, berkarib-kerabat, bahkan untuk sekadar memberi perhatian yang biasa kulakukan pada banyak perempuan. Karena keketatan aturan, dalam rentang waktu yang cukup dalam-panjang, aku merasa kehilangan dan kekurangan. Ada yang tiba-tiba lesak, tandas. Karena frekuensi pertemuan dan intensitas kebersamaan terenggut waktu yang lepas mengapung ke angkasa luar, terbebat tambang kapal yang kau tambatkan, terbui dalam jeruji yang kau kukuhkan, aku malah lebih sering memikirkan ia ketimbang memikirkanmu. Lantas, malam-malam berikutnya aku mulai merinduinya. Dan tiap-tiap fragment dari peristiwa-peristiwa biasa tiba-tiba menyeruak memenuhi seluruh rongga di sekujurku. Sesak menjalar. Semak-semak merimbun berduri-duri di pekarangan hati.
Terlebih, kau menudingku berulangkali, mencurigaiku berulangkali, menyangsikan kedekatan aku dan ia berulangkali. Meski sudah pula kujelaskan berulangkali bahwa tak ada asmara selayaknya lelaki-perempuan dalam persaudaraan aku dan ia. Namun, karena kau terus menerus memojokkanku, menyudutkanku, seolah memaksa agar aku mengakui segala yang kau tuduhkan. Tidak! Dan dalam keterpurukan-ketersudutan itu, semakin massiflah ingatan-ingatan tentangnya menyerangku, dan menusukku bertubi. Entahlah. Barangkali aku memang memiliki kecenderungan untuk melakukan, mengakui, apa-apa yang dituduhkan kepadaku—ketika diri, rasa, dan pikir, terus didesak untuk mengakui. Aku cenderung merealisasikan apa-apa yang tak pernah kulakukan, namun dipaksa mengakui telah melakukan. Maka akhirnya aku pun melakukan: “mencintainya”.
Aku menghargaimu kegalauan-kecemburuanmu, sungguh! Karena dalam jantungku yang lugu, aku menerka mengira: barangkali memang seperti inilah aturan yang mesti dimainkan oleh sepasang pacar ketika menyepakati untuk saling mengikatkan tali hitam yang dinamai pacaran (atau cinta-cintaan) di leher masing-masing. Namun, sungguh, rasa itu pun semacam maut yang tak dapat ditampik, tak terelakkan meski kita bersembunyi di sebalik relung kabut. Ini irasional. Tak terjelaskan dengan logika berpikir kaum positivistik.
Tapi begitulah adanya. Aku mencintaimu secara rasional. Dan mencintai ia secara irasional. Mencintaimu secara sadar (dengan ego), sementara ia menghuni alam bawah sadar (id) yang cukup dominan dalam memengaruhi tindakan-tindakan. Setangguh apa pun ego, toh id tetap saja menyembul keluar. Hadir dalam bentuk fantasi, mimpi, dan teks-teks abstrak yang tak jelas terbaca.
Dan dalam pemikiran seorang yang rasional, segala sesuatu akan dipikirkan secara realistis. Dihitung untung ruginya dengan segala neraca. Dengan dacin barangkali, atau bisa juga dengan literan. Dan kukira, setiap cinta perempuan adalah cinta paling realistis. Tak ada yang sanggup diajak hidup menderita oleh sang kekasih yang amat-sangat-teramat dicintainya. Tak ada yang bersedia…. Tak terkecuali kau!
Aku sudah berusaha sekuat ruh meronta dari raga, untuk mencintaimu dengan sebenar-benarnya cinta. Berupaya memahamimu tanpa merasa cedera. Namun, karena rasionalitas tadi, yang terjadi hanyalah penyangkalan-penyangkalan. Terlampau banyak alasan yang mesti kupertimbangkan. Terlampau banyak peristiwa yang mesti kuputar ulang. Begini sederhananya: aku berupaya mencintai-menyayangi-memahamimu dikarenakan alasan-alasan rasional: tersebab kau telah berbuat banyak untukku, telah banyak menolongku, terlampau banyak memberi, dan lebih sering menangis dan tersakiti olehku. Segalanya berkelindan menjadi beban yang kutimbang dengan neraca, dacin, literan, meteran, jangka sorong, dan segala alat ukur lainya.
Dan aku khawatir, karena segalanya dipertimbangkan dengan seksama, yang meski melukai-mencederai-membebani, bahwa sebenarnya tak ada cinta yang kumiliki dengan sungguh-sungguh. Aku menghawatirkan masa (yang mungkin) datang. Aku mengkhawatirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Aku mengkhawatirkan diriku sendiri.
Aku berbohong ketika mengatakan bahwa aku benar-benar menyayangimu. Aku berbohong ketika menyemai janji ini janji itu—karena toh aku tahu pasti, menyadari dengan pasti, bahwa aku dengan segala kemalasan dan kekekurangajaran ini, akan sangat kesulitan memenuhi segala janji. Aku hanya tukang hayal. Tukang melamun, dengan mengimajinasikan ini membayangkan itu.
Barangkali, kau mengira aku dapat memberikan kebahagiaan untukmu. Aku sudah berupaya, memang, tapi nyatanya aku membutuhkan ketenangan, dan tak melulu dapat berkonflik dengan diriku sendiri. Ya, memang, aku menciptakan kebahagiaanku sendiri ketika bersamamu. Tetapi, nyatanya, rasa yang buat-buat, laku yang dipaksakan—untuk sekadar membuatmu senang—tak sungguh-benar membahagiakanku. Aku telah cukup menahan gejolak aneh yang tak bisa dimengerti ini.
Terakhir, pergilah! Atau jika enggan beranjak dari tempatmu ini, dari titik hitam yang melingkarimu ini, tetaplah bergeming dan tanpa perlu berkomentar. Sebab aku yang akan memilih pergi dari kehidupanmu….
Tolong jangan tanyakan kenapa. Jangan tanyakan bagaimana dirimu nanti.
Aku sudah berupaya sekuat maut membetot nyawa. Tapi aku lelah juga—terkapar dan pingsan. Dan kau berkali mencederai keikhlasan upayaku dengan tamparan-tamparan itu. Duh, nyeri fisik yang tak seberapa itu merembet membikin daftar panjang luka-duka yang kian lengang. Aku gerah berkali-kali, marah berkali-kali. Aku sudah berupaya memahamimu, meski kau agaknya sangat kesulitan dalam memahamiku. Aku yang memang aneh atau agak sulit dimengerti, barangkali. Dan maaf jika aku menyakitimu sekali (ini) lagi. Ini kali terakhir. Setelah ini, kau tidak akan merasakan kesakitan yang sama dari orang yang sama. Aku akan pergi, sejauh-jauhnya pergi, sejauh-jauhnya jarak yang bisa kutempuh. Meradang menerjang hingga hilang pedih perih.
De, berbahagialah…. Aku tak dapat memberikan apa-apa lagi, selain sesobek surat ini dan luka yang diakibatkannya.
Dan, aku tak akan mengejar perempuan-perempuan yang kau cerigai-cemburui itu. Tidak! Mereka kini telah memiliki pasangan-pacar-kekasih sendiri-sendiri. Barangkali juga mereka telah menemu kebahagiaannya sendiri-sendiri. U.M. misalnya. Dari kabar angin-terakhir yang kutahu, tujuh atau sepuluh bulan lalu, ia telah memiliki kekasih dan konon, bahkan, telah bertunangan. Atau I.P. Dari cerita dan kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, sejak lima atau tujuh bulan yang lalu, ia pun telah memiliki kekasih. Mereka telah menemukan pasangan-pasangannya masing-masing. Jadi tak ada alasan bagimu untuk mencurigaiku, kalau aku tengah naksir perempuan lain. Tidak! Aku hanya ingin sendiri. Memikirkan masa (yang mungkin) datang dalam hidupku sendiri. Meski sesekali, mereka, kau juga, melesat serupa maut dalam kepala.
Sekali lagi, aku undur diri. Maaf tak dapat kutuai janji. Dan tak dapat aku berbohong lagi….
Tabik. Salam takzim.

Serang, 13 Januari—4 Februari 2010.

Niduparas Erlang

0 komentar: