Ydh., A.F.
Karena taring kata-kata telah kehabisan
bisa
Karena kembang
tuturan mudah layu dan terhempas angin
Kutulis
prasasti ini dari luka dari duka dalam-panjang
Sebagai
isyarat malam mendung murung tak kunjung hujan
Salam,
Maaf aku menulis
ini, karena ujaran seringkali tak mampu mewakili apa-apa yang aku pikirkan,
yang hendak kukatakan. Dan kukira, sesuatu yang tertulis kadang lebih jujur
dari apa pun yang terucapkan. Sementara kata-kata—utamanya untuk beretorika
atau sekadar berbasa-basi—kerap digunakan untuk kebohongan-kebohongan. Ah,
kebohongan. Sesuatu yang kosong melompong, tanpa isi, meski tampil perbawa di
depan hidung kita dan bahkan penuh renda bunga-bunga—memesona seolah surga.
Akuilah, bahwa
kita pernah juga saling berbohong, pernah saling mengkhianati diri,
mengkhianati semesta masing-masing. Bagiku, meski berbohong nampak begitu
sederhana namun ternyata cukup sukar juga. Meski tak dimungkiri aku lumayan
piawai—kata beberapa kawan yang senang memuji yang barangkali mengharap pujian
kembali—dalam merajut, menukil, merawi, cerita-cerita fiksi. Tapi berbohong
nyatanya tetap saja sulit. Dan yang lebih sulit lagi adalah menutupi kebohongan
dengan kebohongan-kebohongan berikutnya. Terus-menerus berbohong. Hingga kita
bertungkus-lumus mencari cara dan barangkali juga teknik untuk melancarkan kebohongan-kebohongan
selanjutnya, demi menutupi segala kebohongan yang pernah dibuat sekali waktu.
Barangkali, karena
hal semacam inilah, dulu—dulu sekali—nenek sering mengingatkan agar aku
bersikap jujur, terbuka, dan selalu berprasangka baik. Katakan dan ungkapkan—meski
tak melulu dibicarakan—apa pun dengan terang-jelas. Jangan ada yang
ditutup-tutupi. Karena toh, bangkai yang dikubur pun suatu kali akan terkuak
dan tercium juga busuknya. Demikian kata beliau.
Dan inilah
kebohonganku pertama-tama:
Adakah aku benar
mencintaimu, menyayangimu, dengan sungguh-sungguh, dengan segenap rasa segenap
hati, sebulat tekad seutuh hasrat? Jawabannya barangkali akan membuatmu
terhenyak terjerembab tersungkur tersedu-sedu. Atau barangkali kau akan terisak
meraung meradang, hingga perlahan satu dua berguliran bulir-bulir bening hujan
dari matamu yang tanggul. Seperti biasa kau lakukan. Ya, De, aku mencintaimu
secara rasional. Sekadar mencinta dengan sekujur kesadaran. Dan kita tahu
belaka, kalau kesadaran terletak di balik batok kepala, bukan di balik sebidang
dada. Itulah mengapa, aku selalu mampu menjawab tanyamu tentang kenapa aku
mencintaimu. Meski tak melulu kuutarakan, meski lebih sering kutekan dan tak
kubiarkan meloncat lepas lewat nganga mulutku.
Aku mencintai
perempuan lain, De. Ah, mengapa aku bisa mencintai ia dengan sebenar-benarnya
rasa sebesar-besarnya hati? Entahlah. Barangkali ini adalah (hanyalah) efek
lain dari apa-apa yang pernah kau paksa-aturkan terhadapku. Sementara aku,
entah mengapa, memiliki kecenderungan untuk selalu memberontaki apa-apa yang
dipaksa-diaturkan.
Baiklah, agaknya
kita mesti kembali ke lampau waktu yang biru. Ke sebuah titik, di sebuah waktu
yang lugu, kau pernah melarangku untuk berakrab-ria, berkarib-kerabat, bahkan
untuk sekadar memberi perhatian yang biasa kulakukan pada banyak perempuan.
Karena keketatan aturan, dalam rentang waktu yang cukup dalam-panjang, aku
merasa kehilangan dan kekurangan. Ada yang tiba-tiba lesak, tandas. Karena
frekuensi pertemuan dan intensitas kebersamaan terenggut waktu yang lepas
mengapung ke angkasa luar, terbebat tambang kapal yang kau tambatkan, terbui
dalam jeruji yang kau kukuhkan, aku malah lebih sering memikirkan ia ketimbang
memikirkanmu. Lantas, malam-malam berikutnya aku mulai merinduinya. Dan tiap-tiap
fragment dari peristiwa-peristiwa biasa tiba-tiba menyeruak memenuhi seluruh
rongga di sekujurku. Sesak menjalar. Semak-semak merimbun berduri-duri di
pekarangan hati.
Terlebih, kau
menudingku berulangkali, mencurigaiku berulangkali, menyangsikan kedekatan aku
dan ia berulangkali. Meski sudah pula kujelaskan berulangkali bahwa tak ada
asmara selayaknya lelaki-perempuan dalam persaudaraan aku dan ia. Namun, karena
kau terus menerus memojokkanku, menyudutkanku, seolah memaksa agar aku mengakui
segala yang kau tuduhkan. Tidak! Dan dalam keterpurukan-ketersudutan itu,
semakin massiflah ingatan-ingatan tentangnya menyerangku, dan menusukku
bertubi. Entahlah. Barangkali aku memang memiliki kecenderungan untuk
melakukan, mengakui, apa-apa yang dituduhkan kepadaku—ketika diri, rasa, dan
pikir, terus didesak untuk mengakui. Aku cenderung merealisasikan apa-apa yang
tak pernah kulakukan, namun dipaksa mengakui telah melakukan. Maka akhirnya aku
pun melakukan: “mencintainya”.
Aku menghargaimu
kegalauan-kecemburuanmu, sungguh! Karena dalam jantungku yang lugu, aku menerka
mengira: barangkali memang seperti inilah aturan yang mesti dimainkan oleh
sepasang pacar ketika menyepakati untuk saling mengikatkan tali hitam yang
dinamai pacaran (atau cinta-cintaan) di leher masing-masing. Namun, sungguh,
rasa itu pun semacam maut yang tak dapat ditampik, tak terelakkan meski kita
bersembunyi di sebalik relung kabut. Ini irasional. Tak terjelaskan dengan
logika berpikir kaum positivistik.
Tapi begitulah
adanya. Aku mencintaimu secara rasional. Dan mencintai ia secara irasional.
Mencintaimu secara sadar (dengan ego),
sementara ia menghuni alam bawah sadar (id) yang cukup dominan dalam
memengaruhi tindakan-tindakan. Setangguh apa pun ego, toh id tetap saja menyembul keluar. Hadir dalam
bentuk fantasi, mimpi, dan teks-teks abstrak yang tak jelas terbaca.
Dan dalam
pemikiran seorang yang rasional, segala sesuatu akan dipikirkan secara
realistis. Dihitung untung ruginya dengan segala neraca. Dengan dacin
barangkali, atau bisa juga dengan literan. Dan kukira, setiap cinta perempuan
adalah cinta paling realistis. Tak ada yang sanggup diajak hidup menderita oleh
sang kekasih yang amat-sangat-teramat dicintainya. Tak ada yang bersedia…. Tak
terkecuali kau!
Aku sudah berusaha
sekuat ruh meronta dari raga, untuk mencintaimu dengan sebenar-benarnya cinta.
Berupaya memahamimu tanpa merasa cedera. Namun, karena rasionalitas tadi, yang
terjadi hanyalah penyangkalan-penyangkalan. Terlampau banyak alasan yang mesti
kupertimbangkan. Terlampau banyak peristiwa yang mesti kuputar ulang. Begini
sederhananya: aku berupaya mencintai-menyayangi-memahamimu dikarenakan
alasan-alasan rasional: tersebab kau telah berbuat banyak untukku, telah banyak
menolongku, terlampau banyak memberi, dan lebih sering menangis dan tersakiti
olehku. Segalanya berkelindan menjadi beban yang kutimbang dengan neraca,
dacin, literan, meteran, jangka sorong, dan segala alat ukur lainya.
Dan aku khawatir,
karena segalanya dipertimbangkan dengan seksama, yang meski melukai-mencederai-membebani,
bahwa sebenarnya tak ada cinta yang kumiliki dengan sungguh-sungguh. Aku
menghawatirkan masa (yang mungkin) datang. Aku mengkhawatirkan segala
kemungkinan yang bisa terjadi. Aku mengkhawatirkan diriku sendiri.
Aku berbohong
ketika mengatakan bahwa aku benar-benar menyayangimu. Aku berbohong ketika
menyemai janji ini janji itu—karena toh aku tahu pasti, menyadari dengan pasti,
bahwa aku dengan segala kemalasan dan kekekurangajaran ini, akan sangat
kesulitan memenuhi segala janji. Aku hanya tukang hayal. Tukang melamun, dengan
mengimajinasikan ini membayangkan itu.
Barangkali, kau
mengira aku dapat memberikan kebahagiaan untukmu. Aku sudah berupaya, memang,
tapi nyatanya aku membutuhkan ketenangan, dan tak melulu dapat berkonflik
dengan diriku sendiri. Ya, memang, aku menciptakan kebahagiaanku sendiri ketika
bersamamu. Tetapi, nyatanya, rasa yang buat-buat, laku yang dipaksakan—untuk
sekadar membuatmu senang—tak sungguh-benar membahagiakanku. Aku telah cukup
menahan gejolak aneh yang tak bisa dimengerti ini.
Terakhir,
pergilah! Atau jika enggan beranjak dari tempatmu ini, dari titik hitam yang
melingkarimu ini, tetaplah bergeming dan tanpa perlu berkomentar. Sebab aku
yang akan memilih pergi dari kehidupanmu….
Tolong jangan
tanyakan kenapa. Jangan tanyakan bagaimana dirimu nanti.
Aku sudah berupaya
sekuat maut membetot nyawa. Tapi aku lelah juga—terkapar dan pingsan. Dan kau
berkali mencederai keikhlasan upayaku dengan tamparan-tamparan itu. Duh, nyeri
fisik yang tak seberapa itu merembet membikin daftar panjang luka-duka yang kian
lengang. Aku gerah berkali-kali, marah berkali-kali. Aku sudah berupaya
memahamimu, meski kau agaknya sangat kesulitan dalam memahamiku. Aku yang
memang aneh atau agak sulit dimengerti, barangkali. Dan maaf jika aku
menyakitimu sekali (ini) lagi. Ini kali terakhir. Setelah ini, kau tidak akan
merasakan kesakitan yang sama dari orang yang sama. Aku akan pergi,
sejauh-jauhnya pergi, sejauh-jauhnya jarak yang bisa kutempuh. Meradang menerjang hingga hilang
pedih perih.
De,
berbahagialah…. Aku tak dapat memberikan apa-apa lagi, selain sesobek surat ini
dan luka yang diakibatkannya.
Dan, aku tak akan
mengejar perempuan-perempuan yang kau cerigai-cemburui itu. Tidak! Mereka kini
telah memiliki pasangan-pacar-kekasih sendiri-sendiri. Barangkali juga mereka
telah menemu kebahagiaannya sendiri-sendiri. U.M. misalnya. Dari kabar
angin-terakhir yang kutahu, tujuh atau sepuluh bulan lalu, ia telah memiliki
kekasih dan konon, bahkan, telah bertunangan. Atau I.P. Dari cerita dan
kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, sejak lima atau tujuh bulan yang lalu,
ia pun telah memiliki kekasih. Mereka telah menemukan pasangan-pasangannya
masing-masing. Jadi tak ada alasan bagimu untuk mencurigaiku, kalau aku tengah
naksir perempuan lain. Tidak! Aku hanya ingin sendiri. Memikirkan masa (yang
mungkin) datang dalam hidupku sendiri. Meski sesekali, mereka, kau juga,
melesat serupa maut dalam kepala.
Sekali lagi, aku
undur diri. Maaf tak dapat kutuai janji. Dan tak dapat aku berbohong lagi….
Tabik. Salam
takzim.
Serang, 13
Januari—4 Februari 2010.
Niduparas Erlang
0 komentar:
Poskan Komentar